Penasehat Hukum Anggota Pemuda Pancasila Minta Kliennya Dihukum Ringan Atas Kasus Pengeroyokan

oleh -
Terdakwa mengikuti sidang tuntutan secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (8/9/2020).(kj)

SEMARANG, Kontenjateng.com – Penasehat hukum tiga anggota Pemuda Pancasila Kota Semarang, Achmad Teguh Wahyudin, meminta hakim menjatuhkan putusan yang ringan kepada tiga kliennya.

Ketiga terdakwa yaitu Muh Abdul Ajis, Dinar Teguh Prabowo dan Eko Riyadi. Ketiganya menjalani sidang tuntutan yang digelar secara bersamaan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (8/9/2020).

“Kami minta hukuman yang seringan-ringannya. Karena para terdakwa mengakui perbuatannya dan bersikap sopan selama dalam persidangan sehingga memperlancar proses di persidangan,” kata Teguh dalam pembelaannya.

Selain itu, katanya, para terdakwa telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Para terdakwa masih muda usianya sehingga masih bisa diharapkan untuk memperbaiki perbuatannya.

“Dan juga ketiga terdakwa belum pernah dihukum atau belum pernah melakukan perbuatan pidana. Sehingga kami memohon agar hal itu dipertimbangkan,” pintanya.

Ditambahkannya, merujuk pada buku berjudul “Teori Hukum Strategi tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi” karya Dr Bernard L Tanya, yang menyatakan tugas hukum adalah membimbing para warga lewat Undang-Undang pada suatu hidup yang saleh dan sempurna.

“Sehingga orang yang melanggar UU harus dihukum tapi hukuman itu bukan balas dendam karena tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki moral dari terdakwa,” jelasnya.

Dalam kasus tersebut, ketiga anggota Pemuda Pancasila Kota Semarang itu menjadi terdakwa atas kasus pengeroyokan Rio Saputra, warga Jalan Suhada Barat II, RT 1 RW 7, Kelurahan Tlogo Kulon, Pedurungan. Total ada 11 terdakwa yang semuanya anggota Pemuda Pancasila Kota Semarang.

Dalam tuntutannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Noviati Djamiah menilai ketiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan terhadap orang atau suatu barang sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan pertama yaitu Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP.

“Menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana penjara kepada masing-masing selama 9 bulan dikurangi lamanya para terdakwa berada dalam tahanan,” kata jaksa Noviati, dalam sidang tuntutan.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan, ia berpendapat, tidak terdapat keadaan yang menghapuskan sifat melawan hukum dari para terdakwa karena adanya alasan pembenar maupun alasan pemaaf sehingga sudah sepantasnya terdakwa mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah dilakukan.

Sehingga dalam tuntutannya, ia mempertimbangkan hal yang memberatkan para terdakwa. Yaitu perbuatan para terdakwa menyebabkan korban Rio Saputra luka dan rumahnya rusak. Dan

perbuatan para terdakwa membuat trauma ibu dan adik korban.

“Hal-hal yang meringankan yaitu terdakwa berterus terang dan tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Terdakwa menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya,” ucapnya.

Perlu diketahui, kasus pengeroyokan dan perusakan tersebut terjadi pada 25 April 2020, sekitar pukul 21.30 WIB. Ketiga terdakwa bersama terdakwa lain yaitu Siswanto, Bernardo Budi Prasojo, Fredi Prasetyo, Dian Buntoro, Paninton Nainggolan, Henri Kurniawan, Petrus Prastiyo, dan Lana (berkas terpisah), mendatangi rumah korban.

Kasus bermula dari saling ejek antara korban dengan terdakwa Siswanto melalui pesan whatsapp (WA). Saling ejek tersebut kemudian berlanjut pertengkaran karena terdakwa Siswanto menghina ibu kandung korban.

Korban kemudian membalas dengan mengirim pesan suara yang isinya menjelek-jelekkan ormas Pemuda Pancasila. Pesan suara tersebut diketahui terdakwa lainnya dan dikirim ke grup WA Pemuda Pancasila.

Karena tersinggung, terdakwa Henri, Petrus dan Dian Buntoro meminta anggota ormas Pemuda Pancasila untuk mencari keberadaan Rio Saputra (korban) untuk menyelesaikan masalah.

Setelah diketahui, para terdakwa kemudian mendatangi rumah korban di Jalan Suhada Barat II, RT 1 RW 7, Kelurahan Tlogo Kulon, Pedurungan, Kota Semarang. Saat itu, terjadi perdamaian dan permintaan maaf dari korban yang disaksikan ketua RT setempat.

Namun saat para terdakwa hendak meninggalkan rumah korban, kata jaksa, terdakwa Abdul Ajis tiba-tiba kembali masuk rumah korban dan terjadi cekcok.

Terdakwa Abdul Ajis dikatakan belum puas dengan penyelesaian permasalahan tersebut. Kemudian terjadi pemukulan yang dilakukan terdakwa Abdul Ajis dan mengenai badan korban sebanyak satu kali.

Terdakwa lainnya kemudian ikut melakukan pemukulan kepada korban dan beberapa lainnya hanya merusak bagian rumah korban untuk menakut-nakuti korban. Yang mana satu orang terdakwa ada yang menembakkan senjata jenis soft gun ke arah samping rumah.

Setelah puas melampiaskan amarah, para terdakwa membubarkan diri dan meninggalkan rumah korban. Warga setempat tidak berani melerai peristiwa tersebut karena para pelaku atau terdakwa berjumlah banyak dan ada yang membawa senjata api jenis soft gun. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. (zc/kj)