Kasus Pemukulan Perawat di Klinik Pratama Semarang, Pelaku Dituntut 10 Bulan Penjara

oleh -
Ruang Sidang Wirjono Prodjodikoro, Pengadilan Negeri (PN) Semarang.(ist)

SEMARANG, Kontenjateng.com – Sidang kasus pemukulan perawat Klinik Pratama Dwi Puspita dengan terdakwa Budi Cahyono, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (2/9/2020).

Dalam sidang beragendakan tuntutan tersebut, jaksa Kejari Kota Semarang, Zahri Aeniwati menuntut Budi Cahyono dipidana penjara selama 10 bulan.

“Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini, menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 10 bulan penjara,” kata Zahri Aeniwati, dalam tuntutannya yang didengarkan terdakwa secara virtual.

Jaksa Zahri Aeniwati menyatakan, terdakwa Budi Cahyono terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur Pasal 335 ayat (1) KUHP.

Tuntutan pidana terhadap terdakwa tersebut nantinya dikurangkan dengan lamanya masa tahanan yang dijalani terdakwa sejak penyidikan hingga putusan dijatuhkan.

Sementara itu, penasehat hukum terdakwa, Chyntya Alena Gabby menyatakan, akan mengajukan pembelaan secara maksimal pada persidangan selanjutnya.

Menurutnya, tuntutan yang diberikan jaksa terhadap terdakwa tersebut terlalu berat untuk skala kasus yang hanya viral.

“Padahal, kasusnya hanya berupa penamparan yang disebabkan terdakwa emosi. Kasusnya remeh temeh tapi tuntutannya 10 bulan penjara. Itu terlalu berat,” kata Gabby, sapaannya.

Meski begitu, Gabby mengungkapkan tetap menghormati tuntutan jaksa. Pihaknya pun berharap majelis hakim dapat memberikan putusan yang langsung bebas mengingat terdakwa sudah cukup lama berada dalam tahanan yaitu 5 bulan.

Perlu diketahui, kasus pemukulan perawat dengan terdakwa Budi Cahyono terjadi di Klinik Pratama Dwi Puspita, Semarang Timur, pada 9 April 2020 lalu.

Saat itu terdakwa membawa anaknya yang sedang sakit batuk dan panas untuk berobat. Ketika datang, terdakwa tidak mengenakan masker padahal sedang pandemi Covid-19. Sesuai aturan, klinik tidak melayani pasien yang tidak memakai penutup hidung dan mulut.

Melihat kedatangan terdakwa Budi, Hidayatul Munawaroh seorang perawat di Klinik Pratama kemudian menegur dan menyarankan pulang dulu mengambil masker. Namun terdakwa tidak mau. Terdakwa justru marah-marah lalu memukul kepala Hidayatul 1 kali dengan tangan kosong.

Atas perbuatannya, jaksa Kejari Semarang mendakwa Budi Cahyono dengan pasal berlapis yaitu melanggar Pasal 335 ayat (1) dan Pasal 351 ayat (1) ke-1 KUHP. (kj/zc)